24 Feb 2011

Perilaku Manusia


PERILAKU MANUSIA

A.    Ciri-Ciri Perilaku Manusia
Definisi perilaku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan atau reaksi individu yang terwujud di gerakan (sikap); tidak saja badan atau ucapan (Sarwono, 1989:196-197), sedangkan menurut Blair T. Johnson dalam bukunya ­The Handbook of Attitude, Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika.[1]
Dalam sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar.1 Perilaku tidak boleh disalahartikan sebagai perilaku sosial, yang merupakan suatu tindakan dengan tingkat lebih tinggi, karena perilaku sosial adalah perilaku yang secara khusus ditujukan kepada orang lain.1 Penerimaan terhadap perilaku seseorang diukur relatif terhadap norma sosial dan diatur oleh berbagai kontrol sosial.1
Faktor-Faktor yang mempengaruhi manusia
1.      Genetika.
2.      Sikap, adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa[2]. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu2.
3.      Norma Sosial, yaitu pengaruh tekanan sosial.
4.      Kontrol perilaku pribadi, adalah kepercayaan seseorang mengenai sulit tidaknya melakukan suatu perilaku.
Ciri-ciri perilaku manusia yang membedakannya dengan manusia lain
1.      Manusia mempunyai kepekaan social.
2.      Tingkah lakunya berkesinambungan.
3.      Memiliki orientasi kepada tugas.
4.      Memiliki keunikan.
Perilaku manusia mesti sentiasa berlandas adab, tata tertib, akhlak.
Firman Allah SWT yang bermaksud: “(Apa yang kamu katakan itu tidaklah benar) bahkan sesiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah (mematuhi perintah-Nya) sedang ia pula berusaha supaya baik amalannya, maka ia akan beroleh pahalanya di sisi Tuhannya dan tidaklah ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berduka cita.” (Surah al-Baqarah, ayat 112).Berpandukan ayat tersebut, Islam diartikan sebagai penyerahan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan hati dan itulah inti sari dari keseluruhan makna Islam.
Kehidupan manusia adalah berdasarkan penyerahan diri kepada Allah dalam bentuk akhlak. Membentuk diri dengan mengikut acuan akhlak yang ditetapkan Allah dengan menerapkan nilai nas Ilahi dan diperlihatkan dengan model insan unggul iaitu junjungan agung Nabi Muhammad SAW. Akhlak Islam meletakkan seluruh perilaku manusia mesti beralaskan adab dan tatatertib seperti adab berpakaian, pergaulan dan seumpamanya.

B.     Faktor-Faktor Penggerak Tingkah Laku Manusia
Setiap manusia yang normal, setiap kali melakukan perbuatan memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tidak ada orang yang melakukan suatu pekerjaan jika tidak ada tujuan yang ingin dicapai dengan perbuatan itu. Pekerjaan sama yang dikerjakan oleh banyak orang belum tentu memiliki tujuan sama. Orang bisa berbeda­beda dalam sebagian tujuan yang ingin dicapai, tetapi mereka mungkin sepakat pada tujuan yang lain. Tujuan­ tujuan itu seringkali hanya sepakat pada tujuan yang lain. Tujuan­tujuan itu seringkali hanya bersifat permuasan kebutuhan biologis, dan seringkali pemuasan kebutuhan psikologis, atau bisa juga untuk pencapaian nilai­nilai tertentu sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya.
Tingkah laku manusia tidak mudah dipahami tanpa mengetahui apa yang mendorongnya melakukan perbuatan tersebut. Manusia bukan boneka yang digerakkan dari luar dirinya, tetapi di dalam dirinya ada kekuatan yang menggerakkan sehingga seseorang mengerjakan suatu perbuatan tertentu. Faktor­faktor yang menggerakkan tingkah laku manusia itulah yang dalam ilmu jiwa disebut sebagai motif. Motif (motive) yang berasal dari kata motion, memiliki arti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Menurut istilah psikologi mengandung pengertian penyebab yang diduga untuk suatu tindakan; suatu aktivitas yang sedang berkembang, dan suatu kebutuhan.[3]
Motif dapat disimpulkan sebagai kedaan psikologis yang merangsang dan memberi arah terhadap aktivitas manusia. Motif inilah kekuatan yang menggerakkan dan mendorong (faktor penggerak) aktivitas seseorang, yang membimbingnya ke arah tujuan­tujuannya. Tujuan dan aktivitas seseorang selalu berkaitan dengan motif­motif yang menggerakkannya. Sedangkan tujuan adalah apa yang terdapat pada alam sekitar yang mengelilingi seseorang, yang pencapaiannya membawa kepada pemuasan motif tertentu. Air adalah tujuan orang haus, makanan adalah tujuan orang lapar. Gengsi adalah tujuan dari orang yang membutuhkan harga diri. Jadi motif bekerja seringkali untuk pemuasan kebutuhan fisik seperti lapar, haus, lelah atau pemuasan seksual, oleh para ahli psikologi disebut motif primer, dan seringkali untuk memenuhi pemuasan kebutuhan sosial yang muncul dalam bentuk kecenderungan atau kesenangan tertentu, seperti cinta diri atau ingin memiliki supremasi dan dominasi atau untuk mempertahankan kedudukan sosialnya dan sebagainya, disebut motif sekunder. Dari sini jelaslah bahwa tujuan berkaitan erat dengan motif.
Di samping istilah motif, dikenal pula istilah motivasi. Motivasi merupakan istilah yang lebih umum, yang menunjuk kepada seluruh proses gerakan yang melahirkan tingkah laku, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan atau akhir dari perbuatan yang dilakukan. Dalam Kamus Psikologi dijelaskan bahwa motivasi (motivation) adalah perangsang, baik intrinsik maupun ekstrinsik yang memprakarsai dan mendukung sikap aktivitas yang ada; suatu konsep yang kompleks dan dwi fungsi untuk menunjukkan (biasanya) tingkah laku yang didorong kearah tujuan.[4]
Pengetahuan tentang motif dari perbuatan manusia sangat penting untuk memahami tingkah laku mereka, karena satu perbuatan yang dilakukan oleh dua orang belum tentu satu makna.



[1] AlbarracĂ­n, Dolores, Blair T. Johnson, & Mark P. Zanna. The Handbook of Attitude. Routledge, 2005. Hlm. 74-78
[2] Robbins, Stephen P. Perilaku Organisasi Buku 1, 2007, Jakarta: Salemba Empat, hal. 92-102.
[3] Philip R. Harriman,Handbook of Psychological Term, terjemahan bahasa Indonesia oleh M.W. Husodo, dengan judulPanduan Untuk Memahami Istilah Psikologi, (Jakarta:Restu Agung, 1995), h. 147
[4] Philip L. Harriman. Loc.cit