MD CREW

PENJELASAN ADMINISTRASI
Oleh Arif Rahman, S.Ag., M.Pd

Administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang didasari atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Beberapa hal yang terkandung dari definisi diatas:
·           Administrasi sebagai seni adalah merujuk pada proses atau kegiatan yang menyangkut gaya orang dalam mengajak orang untuk melakukan kerjasama, atau cara-cara dan tehnik mengatur, mengajak dan mengendalikan
·           Administrasi memiliki unsur-unsur:
Ø  Adanya dua orang manusia atau lebih
Ø  Adanya tujuan yang hendak dicapai
Ø  Adanya tugas-tugas yang harus dilaksanakan
Ø  Adanya peralatan atau perlengkapan termasuk waktu dan tempat untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut.
·    Bahwa administrasi sebagai proses kerjasama bukan merupakan hal yang baru, ia timbul bersama peradaban manusia (Social Phenomenon).
·      Administrasi dilihat dari segi fungsional yakni; (1) Menentukan tujuan menyeluruh yang hendak dicapai (Organizational Goal), (2) Menentukan kebijaksanaan umum yang mengikat seluruh organisasi (General and Overall Policies)
Management adalah kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain (manajemen merupakan inti dari administrasi). Manajemen; (1) Berfungsi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas-batas kebijaksanaan umum yang telah ditentukan pada tingkat administrasi, (2) Tujuan dan kebijaksanaan pada tingkat manajemen bersifat departemental atau sektoral.
Leadership (Kepemimpinan) : Merupakan inti dari manajemen (motor atau daya penggerak) dari semua sumber-sumber dan alat-alat (resources) yang tersedia bagi suatu organisasi. Kemampuan seorang pemimpin dalam menggerakkan resources akan menentukan keberhasilannya dalm mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan.
Human Relation: Keseluruhan rankaian hubungan, baik yang bersifat formil maupun non formil antara atasan dengan bawahan, atasan dengan atasan, bawahan dengan bawahan, yang harus dibina dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tercipta suatu teamwork dan suasana kerja yang intim dan harmonis dalam rangka pencapaian tujuan. Human relation merupaka inti dari kepemimpinan.
Organisasi; Setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama serta secara formal terikat dalam pencapaian tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan mana terdapat seorang/beberapa orang yang disebut atasan dan seorang/beberapa orang yang disebut bawahan. Organisasi bersifat statis apabila dipandang sebagai wadah dan dapat bersifat dinamis apabila dipandang sebagi hierarchi

RUANG LINGKUP ADMINISTRASI DAKWAH

            Ruang lingkup administrasi dakwah meliputi: Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Kegiatan Dakwah, Fasilitas dan berbagai unsure lainnya. Unsur-unsur tersebut secara sistematis dijalankan melalui tiga fungsi kegiatan yakni: perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dan untuk mencapai keberhasilan tersebut memerlukan suatu proses, minimal meliputi perilaku manusia dalam berorganisasi sesuai dengan budaya yang berlaku sebagai alat komunikasi. Wilayah kerja Adminisrasi Dakwah dapat dilihat pada bagan berikut:




               Garapan
Fungsi
SDM
SKD
SDF
M
Da
PJ
PD
MD
A
D
F
SH
Perencanaan









Pelaksanaan









Pengawasan









Keterangan
M         = Mad’u                                              D         = Dana
Da       = Da’I                                                 F          = Fasilitas
PJ        = Pengguna Jasa                                  SH       = Stakeholder
PD       = Program Dakwah                             TD       = Tujuan Dakwah
MD      = Metode Dakwah
A         = Alat/Media/Referensi

A.      Hakikat Dakwah
1.  Dakwah merupakan proses interaksi manusia yang ditandai antara keseimbangan mad’u dan kewibawaan da’i
2.     Dakwah merupakan usaha penyiapan mad’u menghadapi lingkungan yang mengalami perubahan yang semakin pesat
3.      Dakwah berlangsung seumur hidup
4.    Dakwah merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip keagamaan dalam kehidupan social bagi pembentukan manusia seutuhnya.

B.       Hakikat Mad’u (Sasaran Dakwah)
1.   Mad’u bertanggung jawab atas mempunyai hak atas informasi dan bantuan moril yang diterimanya sesuai dengan wawasan yang dimiliki mad’u itu sendiri
2.   Mad’u memiliki potensi, baik fisik maupun psikologis yang berbeda-beda sehingga masing-masing mad’u merupakan insan yang unik
3.      Mad’u pada dasarnya merupakan insan yang aktif menghadapi lingkungan hidupnya.

C.      Hakikat Da’i (Subjek Dakwah)
1.      Da’i merupakan agen pembaharuan
2.      Da’i berperan sebagai pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat
3.    Da’i sebagai fasilitator memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi mad’u untuk mendapatkan layanan moralnya
4.      Da’i bertanggung jawab atas tercapainya hasil kemasan informasi bagi mad’u
5.   Da’i dituntut untuk menjadi contoh dalam pengelolaan proses penyampaian informasi dan bantuan moral bagi para mad’u yang menjadi penerus dakwah islamiyah
6.      Da’i bertanggung jawab secara professional untuk terus meningkatkan kemampuannya
7.      Da’i menjunjung tinggi nilai-nilai moral profesionalnya

D.      Hakikat Kegiatan Dakwah
1.      Peristiwa dakwah terjadi apabila da’i secara aktif berinteraksi dengan lingkungan sekitar mad’u
2.      Proses dakwah yang efektif memerlukan strategi dan media/telnologi dakwah yang tepat
3.      Program dakwah dirancang dan dimplikasikan sebagai suatu sistem
4.      Pembentukan kompetensi professional memerlukan pengintegrasian fungsional teori dan praktik serta materi dan metodologi penyampaian.
5.   Pembentukan kompetensi professional memerlukan pengalaman lapangan yang bertahap, mulai dari pengenalan medan, latihan keterampilan terbatas sampai dengan pelaksanaan penghayatan tugas-tugas dakwah secara lebih actual
6.   Kriteria keberhasilan yang utama dalam dakwah professional adalah pendemonstrasian penguasaan kompetensi
7.      Materi dakwah dan sisitem penyampaian selalu berkembang

E.       Hakikat Kelembagaan Dakwah
1.  Lembaga Dakwah merupakan lembaga professional yang melaksanakan kegiatan dakwah dan pengembangan ilmu dan teknologi bagi kepentingan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat
2.    Lembaga Dakwah menyelenggarakan program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat baik kualitatif maupun kuantitatif
3.   Lembaga Dakwah dikelola dalam suatu system pembinaan yang terpadu dalam rangka pengadaan para da’i dan pelaksanaan proram dakwah
4.   Lembaga Dakwah memiliki mekanismne balikan yang efektif untuk meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat secara terus menerus



PENGERTIAN MANAJEMEN
 Oleh: Arif Rahman, S.Ag., M.Pd

Istilah manajemen, terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman. Selanjutnya, bila kita mempelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah manajemen mengandung tiga pengertian yaitu:
Manajemen sebagai suatu proses,
1. Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,
2. Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)
Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian yang pertama itu, dikemukakan tiga buah definisi.
Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi. Selanjutnya, Hilman mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.
Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.
Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pengetahuan. Mengenai inipun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya.
Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen juiga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalam kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan manajemen.
Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.
Itulah manajemen, tetapi menurut Stoner bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi sehingga tak ada satu definisi saja yang dapat diterima secara universal. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan


 Dari gambar di atas menunjukkan bahwa manajemen adalah Suatu keadaan terdiri dari proses yang ditunjukkan oleh garis (line) mengarah kepada proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian, yang mana keempat proses tersebut saling mempunyai fungsi masing-masing untuk mencapai suatu tujuan organisasi.

A.      Fungsi-Fungsi Manajemen (Management Functions)
Sampai saat ini, masih belum ada consensus baik di antara praktisi maupun di antara teoritis mengenai apa yang menjadi fungsi-fungsi manajemen, sering pula disebut unsur-unsur manajemen. Berbagai pendapat mengenai fungsi-fungsi manajemen akan tampak jelas dengan dikemukakannya pendapat beberapa penulis sebagai berikut:

Louis A. Allen : Leading, Planning, Organizing, Controlling.
Prajudi Atmosudirdjo : Planning, Organizing, Directing, atau Actuating and Controlling.
John Robert B., Ph.D : Planning, Organizing, Command -ing, and Controlling.
Henry Fayol : Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling.
Luther Gullich : Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, Budgeting.
Koontz dWilliam H. Newman : Planning, Organizing, Assem-bling, Resources, Directing, Controlling.
Dr. S.P. Siagian., M.P.A : Planning, Organizing, motivating and Controlling.
William Spriegel : Planning, organizing, Controlling
Lyndak F. Urwick : Forecasting, Planning Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling.
Dr. Winardi, S.E : Planning, Organizing, Coordi-nating, Actuating, Leading, Communication, Controlling
The Liang Gie : Planning, Decision making, Directing, Coordinating, Controlling, Improving.
James A.F.Stoner : Planning, Organizing, Leading, and Controlling.
George R. Terry : Planning, Organizing, Staffing, Motivating, and Controlling.
Dari beberapa pendapat para penulis di atas dapat dikombinasikan, fungsi-fungsi manajemen adalah sebagai berikut:

 Planning
Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Misalnya yang sederhana saja merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencaan merupakan penetapan jawaban kepada enam pertanyaan berikut :
1. Tindakan apa yang harus dikerjakan ?
2. Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan ?
3. Di manakah tindakan itu harus dikerjakan ?
4. kapankah tindakan itu harus dikerjakan ?
5. Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu ?
6. Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu ?
Menurut Stoner Planning adalah proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran tadi. 

Organizing
Organizing (organisasi) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.

Leading
Pekerjaan leading meliputi lima kegiatan yaitu :
• Mengambil keputusan
• Mengadakan komunikasi agar ada saling pengertian antara manajer dan bawahan.
• Memberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak.
Memilih orang-orang yang menjadi anggota kelompoknya, serta memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar mereka terampil dalam usaha mencapai tujuan yang ditetapkan.

Directing/Commanding
Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.

Motivating
Motivating atau pemotivasian kegiatan merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai dengan apa yang diinginlan atasan

Coordinating
Coordinating atau pengkoordinasian merupakan salah satu fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerjasama yang terarahdalam upaya mencapai tujuan organisasi.

Controlling
Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dengan tujuan yang telah digariskan semula.
Reporting
Adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi.

Staffing
Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga memberi daya guna maksimal kepada organisasi

Forecasting
Forecasting adalah meramalkan, memproyeksikan, atau mengadakan taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rancana yang lebih pasti dapat dilakukan

B.       Tingkatan Manajemen (Manajemen Level).
Tingkatan manajemen dalam organisasi akan membagi tingkatan manajer menjadi 3 tingkatan :
1.      Manajer lini garis-pertama (first line) adalah tingkatan manajemen paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Dan mereka tidak membawahi manajer yang lain.
2.      Manajer menengah (Middle Manager) adalah manajemen menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya kadang-kadang juga karyawan operasional.
3.      Manajer Puncak (Top Manager) terdiri dari kelompok yang relative kecil, manager puncak bertanggung jawab atas manajemen keseluruhan dari organisasi.

 
MANAJEMEN DALAM PANDANGAN ISLAM

Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif.
Beberapa istilah dikenal bahwa yang hak itu akan hancur oleh kebathilan yang dikelola dan tersusun rapi yang berada di sekelilingnya, sebagaimana dikemukakan Ali bin Abi Thalib :”kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dihancurkan oleh kebathilan yang tersusun rapi”.
Pengertian Manajemen Islam.
Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan Shadily (1995 : 372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan.
Ramayulis (2008:362) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al Qur’an seperti firman Allah SWT :
يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مِنَ السَّمَآءِ إِلَى اْلأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ
كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةِ مِّمَّا تَعُدُّونَ
Artinya : Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Al Sajdah : 05).
Dari isi kandungan ayat di atas dapatlah diketahui bahwa Allah swt adalah pengatur alam (manager). Keteraturan alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dalam mengelola alam ini. Namun, karena manusia yang diciptakan Allah SWT telah dijadaikan sebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.
Sementara manajemen menurut istilah adalah proses mengkordinasikan aktifitas-aktifitas kerja sehingga dapat selesai secara efesien dan efektif dengan dan melalui orang lain (Robbin dan Coulter, 2007:8).
Bila kita perhatikan dari kedua pengertian manajemen di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa manajemen merupkan sebuah proses pemanfaatan semua sumber daya melalui bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secara efektif, efesien, dan produktip. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan proses transinternalisasi nilai-nilai Islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.
Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis (2008:260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.
Fungsi-fungsi Manajemen Islam
Berbicara tentang fungsi manajemen pendidikan Islam tidaklah bisa terlepas dari fungsi manajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang industriyawan Prancis, dia mengatakan bahwa fungsi-fungsi manajemn itu adalah merancang, mengorganisasikan, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang.
Sementara itu Robbin dan Coulter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemen yang paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan. Senada dengan itu Mahdi bin Ibrahim (1997:61) menyatakan bahwa fungsi manajemen atau tugas kepemimpinan dalam pelaksanaannya meliputi berbagai hal, yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.
Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan Islam, maka kami (kelompok 1) akan menguraikan fungsi manajemen pendidikan Islam sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yang pendapatnya senada dengan Mahdi bin Ibrahim yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.
1. Fungsi Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr : 18 yang berbunyi :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.
Mahdi bin Ibrahim (l997:63) mengemukakan bahwa ada lima perkara penting untuk diperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu :
  1. Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan
  2. Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai
  3. Keterkaitan antara fase-fase operasional rencana dengan penanggung jawab operasional, agar mereka mengetahui fase-fase tersebut dengan tujuan yang hendak dicapai
  4. Perhatian terhadap aspek-aspek amaliah ditinjau dari sisi penerimaan masyarakat, mempertimbangkan perencanaa, kesesuaian perencanaan dengan tim yang bertanggung jawab terhadap operasionalnya atau dengan mitra kerjanya, kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicapai, dan kesiapan perencanaan melakukan evaluasi secara terus menerus dalam merealisasikan tujuan.
  5. Kemampuan organisatoris penanggung jaawab operasional.
Sementara itu menurut Ramayulis (2008:271) mengatakan bahwa dalam Manajemen pendidikan Islam perencanaan itu meliputi :
  1. Penentuan prioritas agar pelaksanaan pendidikan berjalan efektif, prioritas kebutuhan agar melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses pendidikan, masyarakat dan bahkan murid.
  2. Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikan
  3. Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana tindakan.
  4. Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok-kelompok kerja.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan Islam perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa perencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan mungkin akan gagal. Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar menemui kesuksesan yang memuaskan.

2. Fungsi Pengorganisasian (organizing)
Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.
Menurut Terry (2003:73) pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen dilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.
Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin dan bawahan (Didin dan Hendri, 2003:101)
Sementara itu Ramayulis (2008:272) menyatakan bahwa pengorganisasian dalam pendidikan Islam adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desain struktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan Isla, baik yang bersifat individual, kelompok, maupun kelembagaan.
Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.
Dari uraian di atas dapat difahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginan keterampilan dan pengetahuan.

3. Fungsi Pengarahan (directing).
Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah adalah orang yang memberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang diberipengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.
Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemen pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepada rekan kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh- sungguh dan bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.

4. Fungsi Pengawasan (Controlling)
Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan Didin dan Hendri (2003:156) menyatakan bahwa dalam pandangan Islam pengawasan dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak.
Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat materil maupun spirituil.
Menurut Ramayulis (2008:274) pengawasan dalam pendidikan Islam mempunyai karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual, monitoring bukan hanya manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.










Berdasarkan kepada komponen komunikasi yang diformulasikan ke dalam model bentuk konmunikasi linear ala Laswell ini, maka dari segi sistematika penurunan Al-Qur’an telah memenuhi komponen-komponen komunikasi tersebut, komponen komunikasi yang dimaksud adalah: (1) Komunikator adalah Allah SWT, (2) komunikan adalah Nabi Muhammad, (3) pesan komunikasi berupa ayat, (4) media komunikasinya terbagi dua: media langsung melalui perantaraan jibril dan media tidak langsung melalui mimpi dan gemerincing lonceng, dan (5) efek, yaitu terciptanya ketenangan, ketundukan dan hidayah[1].
Ditinjau dari tugas Nabi sebagai penerima Al-Qur’an, bahwa nabi sesuai dengan makna leksikal nabi itu sendiri berasal dari bahasa Arab, dari akar kata nabaa, jamaknya adalah anbiya, dalam bahasa Inggrisnya prophets yang berarti pembawa berita[2]. Dan berita yang disampaikan nabi adalah Al-Qur’an atau ayat-ayat Allah.
Dengan asumsi seperti itu maka dapat dirumuskan komponen komunikasi sebagai berikut: (1) Komunikator adalah Nabi Muhammad, (2) komunikan adalah shahabat dan umat, (3) pesan adalah ayat al-Qur’an, (4) media komunikasi adalah lisan, tulisan dan Al-Qur’an yang dipraktekkan Oleh Muhammad SAW, dan (5) efeknya adalah terciptanya suasana iman, Islam dan ihsan.
Mempertegas pembahasan tersebut, tugas utama para nabi pada hakikatnya mengemban perintah dari Allah agar mengkomunikasikannya dan mensyi’arkan syariat Islam kepada umat manusia agar mampu dan mau memilah serta memilih yang baik dan benar serta mencegah dari kesesatan dan kedzaliman. Tujuan utamanya adalah menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Prinsip dasar seorang nabi sebagai komunikator dia adalah seorang yang mempunyai kemampuan intelektual yang cerdas (fathanah) yang dapat memahami pesan yang diterima, seoranag yang jujur (as-Shidq), dan dapat dipercaya (amanah) sehingga benar-benar menyampaikan pesan tersebut dengan tidak dibuat-buat, dikurangi atau ditambah[3]. Seorang nabi dalam menjalankan tugas menyampaikan risalah haruslah didasari perintah Allah, dengan jiwa yang tulus dan cara-cara yang bersih serta penuh kesabaran.[4]
Komunitas manusia yang dihadapi sebagai komunikan yang menjadi objek ajaran tersebut mempunyai beragam socio-Culturali, adat-istiadat dan bahasa yang berlainan. Dalam hal ini seorang nabi harus mampu memahami situasi yang dihadapi dan menyampaikan pesan sesuai dengan karakterstik manusia. Kurun waktu yang berbeda, situasi yang beraneka ragam, domisili yang tersebar seantero jagat raya, karakteristiknya pun berkembang sesuai gerak kemajuan teknologi dan budaya. Kesemuanya dipersatukan kepada satu tujuan yang sama.
Dalam menunjang keberhasilan komunikasi seorang nabi khususnya dan umat manusia pada umumnya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa keberhasilan komunikasi sangat ditentukan bagaimana komunikator menerapkan strategi dan metode yang tepat guna dan berhasil guna, berhadapan dengan komunitas komunikan yang beragam sebagaimana dijelaskan di atas.
Menurut Al-Qur’an, factor utama dalam mencapai tujuan komunikasi ditengah-tengah keragaman komunikan adalah dengan factor bahasa dalam arti yang seluas-luasnya. Sebab bahasa merupakan media yang paling banyak dipergunakan dalam komunikasi dan hanya bahasa yang mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain. Apakah itu berbentuk ide, informasi atau opini, baik mengenai hal yang konkrit maupun abstrak, bukan saja tentang hal atau peristiwa yang terjadi saat sekarang, melainkan juga pada waktu yang lalu dan masa yang akan datang[5]. Dengan media bahasa itu pula, kita bias mempelajari beragam ilmu, baik yang ditulis oleh para ilmuwan dahulu maupun yang akang datang.kesamaan dalam arti dalam pemahamannya, strata pengetahuan komunikator dan komunikan, pola pendekatan persuasif yang bias diterima semua orang untuk selanjutnya berhasil mengubah sikap dan tingkah sadar untuk mengamalkannya, semua itu menjadi target para nabi dan rasul yang hanya bias disampaikan melalui bahasa yang dimengerti oleh umatnya.[6]
Secara praktis-aplikatif, Al-Qur’an menawarkan metode yang tepat dalam komunikasi, yaitu dengan cara bijaksana (hikmah), nasehat yang baik (al-Mauidzah al-Hasanah) dan berdiskusi yang baik (al-Mujadalah)[7]. Ketiga cara ini merupakan etika komunikasi berdasarkan Al-Qur’an yang dapat diterapkan sesuai dengan watak dan kemampuan komunikator dan komunikan.




3. Etika Komunikasi Qur’ani
Al-Qur’an menurut al-Qardawi dinamakan pula sebagai “al-Haq” yang memiliki  makna yang sangat luas dan mendalam, diantaranya adalah: (1) al-Haq berarti petunjuk atas citra Tri Tunggal Yang Luhur, yaitu kebenaran, kebajikan dan keindahan; dan (2) al-Haq berarti etika timbale balik antara manusia[8].
Sebagai kitab etika, di dalam Al-Qur’an terdapat seitar 500 ayat yang membicarakan tentang konsepatau ajaran etika ini[9]. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya etika. Etika yang dianjarkan mengacu kepada standar yang ditetapkan oleh Allah. Figure contoh keteladanan etika adalah Rasulullah sendiri. Karena itu dalam perspektif Islam etika tidak saja merupakan suatu ajaran yang bersifat konseptual tetapi juga praktikal. Keberadaan rasulullah sebagai figure keteladanan dalam bidang tingkah laku (behavior), menunjukkan metode pengajaran dan aplikasi nilai-nilai etika yang paling akurat; sehingga dengan demikian nilai-nilai etika itu dapat digugu dan ditiru secara langsung oleh manusia. Rasulullah sendiri mengaku bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an adalah akhlaknya.
Dalam kaitan ini, Izutsu[10], menyatakan bahwa Al-Qur’an mengandung pesan-pesan moral yang sangat sistematis; ajaran-ajaran moral yang dapat dijadikan sebagai satu standar nilai yang dituangkan dalam bentuk “Etika Qur’ani”. Menurutnya yang dimaksud dengan etika Qur’ani ialah konsep dasar yang diajarkan Al-Qur’an, seperti shalih, birr, fasad, ma’ruf, munkar, khair, syarr, husn, su’, fahsya’ atau fahisyah, thayyib, khabitsah, halal, haram, pahala dan dosa. Selain itu juga terdapat konsep mengenai iman, kufur, syukur, syirk, dhalal, islam, fasiq, fajir, dzalim, sabar  dan sebagainya.
Etika Qur’ani menurut Ilyas[11], me,punyai cirri-ciri tersendiriyang membedakannya dengan etika lain. Etika Qur’ani sekurang-kurangnya mempunyai lima ciri utama, yaitu: (1) Rabbani, menegaskan bahwa etika Qur’ani adalah etika yang membimbing manusia ke arah yang benar, jalan yang lurus atau sirathal mustaqim[12]. (2) manusiawi, berarti etika Qur’ani memperhatikan dan memenuhi fitrah manusia serta menuntun manusia agar memperoleh kebahagiaan hisup di dunia dan akhirat[13]. (3) Universal, adalah etika Qur’ani membawa misi kasih saying kepada umat manusia di seluruh dunia; menegakkan kedamaian, menciptakan keamanan dan ketenangan baik secara individual maupun komunal[14]. (4) Keseimbangan, artinya mengajarkan manusia agar memperhatikan kepentingan duniawi; namun tidak melupakan kepantingan ukhrawi, memenuhi keperluan jasmani tanpa mengabaikan keperluan rohani; mental spiritual dan material[15]. (5) realistik, adalah memperhatikan kenyataan hidup manusia. Al-Qur’an memberikan kesempatan-kesempatan kepada setiap orang untuk bekerja dan berkarya; dan memperhatikan tingkat kemampuan manusia dalam menjalankan kewajiban dan sekaligus memberikan keringanan (rukhshah) bagi yang tidak mampu melakukannya[16].
Menurut Abudin Nata[17], karakteristik dari etika Islam (Etika Qur’ani) adalah sebagai berikut:
a.       Mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk.
b.      Menetapkan bahwa yang menjadi sumber ajaran adalah Allah SWT dan Rasul-Nya (Al-Qur’an dan As-Sunnah)
c.       Bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima oleh seluruh manusia di segala tem-pat dan waktu.
d.      Dengan ajaran-ajaran yang tepat dan praktis, cocok dengan fitrahnya dan akal fikiran manusia, maka etika Islam dapat dijadikan pedoman oleh seluruh manusia.
e.       Mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang luhur dan meluruskan perbuatan manusia di bawah pancaran sinar petunjuk Allah SWT menuju keridhoan-Nya.[18]
Prinsip lain yang dijelaskan Al-Qur’an tentang komunikasi atau media massa adalah perlunya sikap kritis dalam menerima informasi, harus dilihat sumber informasi itu, apakah datang dari sumber yang dipercaya atau tidak[19]. Dan salah satu etika komunikasi yang diungkapkan dalam Al-Qur’an khususnya tentang media massa bahwa tidak dibenarkan menyebarluaskan suatu keburukan atau berita negatif, kecuali untuk penegakkan hokum, selain untuk menjaga kehormatan orang lain.



58 Lihat QS. Al-Qadr: 4-5
59 Cyril Glase, Ensiklopedi Islam, Cet. II, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 297
60 QS. Al-Maidah: 99
61 QS. Al-Muddatsir: 1-7
62 Effendi, Teori, hlm. 11
63 Syekh Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid. V, Juz 13, hlm. 126
64 QS. An-Nahl: 125
65 Dr. Yusuf Qardawi, Efistemologi Al-Qur’an (al-Haq), Terj., Cet. II, (Surabaya: Penerbit Risalah Gusti, 1996), hlm. 3
66 Drs. H. M. Darwis Hude, M.Si., dkk, Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur’an, Cet. I, (Jakarta: Penerbit  Pustaka Firdaus, 2002), hlm. 189
67 Izutsu, Toshishiko, Konsep-Konsep Etika Religius dalam Al-Qur’an (Athico-Religius Conceps in the Qur’an), Penerj.  Agus Efendi Husein, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1993), hlm. 3
68 Ilyas, Yunhar, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta: LPPI UMY, 2000), hlm. 12
69 QS. Al-An’am: 153
70 QS. Ar-Rum: 30
71 QS. Al-Anbiya: 107
72 QS. Al-Baqarah: 201; QS. Al-Qashash: 77
73 QS. Al-Baqarah: 173 dan 286
74 ibid, hlm. 96
75 Hamzaj Ya’qub, Op. Cit., hlm. 13-14
76 QS. Al-Hujrat: 6




                                                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.